Euthanasia

Dalam praktek kedokteran dikenal
dua macam euthanasia yaitu,
euthanasia pasif dan euthanasia aktif.
Yang dimaksud dengan euthanasia
aktif ialah tindakan dokter
mempercepat kematian pasien
dengan memberikan suntikan ke
dalam tubuh pasien tersebut.
Suntikan dilakukan pada saat
keadaan penyakit pasien sudah
sangat parah atau sudah sampai
pada stadium akhir, yang menurut
perkiraan/perhitungan medis sudah
tidak mungkin lagi bisa sembuh atau
bertahan lama. Alasan yang lazim
dikemukakan dokter ialah bahwa
pengobatan yang diberikan hanya
akan memperpanjang penderitaan
pasien, tidak mengurangi keadaan
sakitnya yang memang sudah
parah.
Yang dimaksud dengan euthanasia
pasif adalah tindakan dokter berupa
penghentian pengobatan pasien
yang menderita sakit keras, yang
secara medis sudah tidak mungkin
lagi dapat disembuhkan.
Penghentian pemberian obat ini
berakibat mempercepat kematian
pasien. Alasan yang lazim
dikemukakan ialah karena keadaan
ekonomi pasien yang terbatas,
sementara dana yang dibutuhkan
untuk biaya pengobatan cukup
tinggi, sedangkan fungsi
pengobatan menurut perhitungan
dokter sudah tidak efektif lagi.
Ada lagi upaya lain yang bisa
digolongkan dalam euthanasia pasif,
yaitu upaya dokter menghentikan
pengobatan terhadap pasien yang
menurut penelitian medis masih
mungkin bisa sembuh. Umumnya
alasannya adalah ketidakmampuan
pasien dari segi ekonomi padahal
biaya pengobatannya yang
dibutuhkan sangat tinggi.
Beberapa contoh kasus dalam hal ini
diantaranya:
1. Penderita kanker yang sudah kritis,
orang sakit yang sudah dalam
keadaan koma, disebabkan benturan
pada otak yang tidak ada harapan
untuk sembuh. Atau orang yang
terkena serangan penyakit paru-
paru yang jika tidak diobati akan
dapat mematikan penderita. Dalam
hal ini, jika pengobatan terhadapnya
dihentikan akan dapat mempercepat
kematiaannya.
2. Seseorang yang kondisinya sangat
kritis dan akut karena menderita
kelumpuhan tulang belakang yang
biasa menyebabkan kelumpuhan
pada kedua kaki dan kehilangan
kontrol pada kandung kencing dan
usus besar. Penderita penyakit ini
senantiasa dalam kondisi lumpuh
dan selalu membutuhkan bantuan
khusus selama hidupnya. Atau
penderita kelumpuhan otak yang
menyebabkan keterbelakangan
pikiran dan kelumpuhan badannya
dengan studium beragam yang
biasanya penderita penyakit ini akan
lumpuh fisiknya dan otaknya serta
selalu memerlukan bantuan khusus
selama hidupnya. Dalam keadaan
demikian ia dapat saja dibiarkan
tanpa diberi pengobatan yang
mungkin akan dapat membawa
kematiannya.
Dalam contoh tersebut,
“ penghentian pengobatan”
merupakan salah satu bentuk
eutanasia pasif. Menurut gambaran
umum, para penderita penyakit
seperti itu terutama anak-anak tidak
berumur panjang, maka
menghentikan pengobatan dan
mempermudah kematian secara
pasif itu mencegah perpanjangan
penderitaan si anak atau kedua
orang tuanya.
Beberapa contoh kasus ethanisia
aktif diantaranya:
1. Seseorang menderita kanker ganas
dengan rasa sakit yang luar biasa
hingga penderita sering pingsan.
dalam hal ini dokter yakin bahwa
yang bersangkutan akan
meningggal dunia. Kemudian dokter
memberinya obat dengan takaran
tinggi (overdosis) yang sekiranya
dapat menghilangkan rasa sakitnya,
tetapi menghentikan pernapasannya
sekaligus.
2. Orang yang mengalami keadaan
koma yang sangat lama, misalnya
karena bagian otaknya terserang
penyakit atau bagian kepalanya
mengalami benturan yang sangat
keras. Dalam keadaan demikian ia
hanya mungkin dapat hidup dengan
mempergunakan alat pernafasan,
sedangkan dokter ahli berkeyakinan
bahwa penderita tidak akan dapat
disembuhkan.
Alat pernafasan itulah yang
memompa udara ke dalam paru-
parunya dan menjadikannya dapat
bernapas secara otomatis. Jika alat
pernapasan tersebut dihentikan
(dilepas), maka penderita sakit tidak
mungkin dapat melanjutkan
pernafasannya sebagai cara aktif
memudahkan proses kematiannya.
Dalam prakteknya, para dokter tidak
mudah melakukan euthanasia ini,
meskipun dari sudut kemanusiaan
dibenarkan adanya euthanasia dan
merupakan hak bagi pasien yang
menderita sakit yang tidak dapat
disembuhkan (sesuai dengan
Deklarasi Lisboa 1981). Akan tetapi
dokter tidak dibenarkan serta merta
melakukan upaya aktif untuk
memenuhi keinginan pasien atau
keluarganya tersebut. Hal ini
disebabkan oleh dua hal, pertama,
karena adanya persoalan yang
berkaitan dengan kode etik
kedokteran, disatu pihak dokter
dituntut untuk membantu
meringankan penderitaan pasien,
akan tetapi dipihak lain
menghilangkan nyawa orang
merupakan pelanggaran terhadap
kode etik itu sendiri. Kedua, tindakan
menghilangkan nyawa orang lain
dalam perundng-undangan
merupakan tindak pidana , yang
secara hukum di negara manapun,
tidak dibenarkan oleh Undang-
undang.
Secara umum ajaran Islam
diarahkan untuk menciptakan
kemaslahatan hidup dan kehidupan
manusia, sehingga aturannya
diberikan secara lengkap, baik yang
berkaitan dengan masalah
keperdataan maupun pidana.
Khusus yang berkaitan dengan
keselamatan dan perihal hidup
manusia, dalam hukum pidana
Islam (jinayat) ditetapkan aturan
yang ketat, seperti adanya hukuman
qishash, hadd, dan diat.
Dalam Islam prinsipnya segala
upaya atau perbuatan yang
berakibat matinya seseorang, baik
disengaja atau tidak sengaja, tidak
dapat dibenarkan, kecuali dengan
tiga alasan; sebagaimana disebutkan
dalam hadits: “Tidak halal
membunuh seorang muslim kecuali
karena salah satu dari tiga alasan,
yaitu: pezina mukhshan (sudah
berkeluarga), maka ia harus dirajam
(sampai mati); seseorang yang
membunuh seorang muslim
lainnya dengan sengaja, maka ia
harus dibunuh juga. Dan seorang
yang keluar dari Islam (murtad),
kemudian memerangi Allah dan
Rasulnya, maka ia harus dibunuh,
disalib dan diasingkan dari tempat
kediamannya” (HR Abu Dawud dan
An-Nasa’i)
Selain alasan-alasan diatas, segala
perbuatan yang berakibat kematian
orang lain dimasukkan dalam
kategori perbuatan ‘jarimah/tindak
pidana’ (jinayat), yang mendapat
sanksi hukum. Dengan demikian
euthanasia karena termasuk salah
satu dari jarimah dilarang oleh
agama dan merupakan tindakan
yang diancam dengan hukuman
pidana. Dalil syari ’ah yang
menyatakan pelarangan terhadap
pembunuhan antara lain Al-Qur ’an
surat Al-Isra’:33, An-Nisa’:92, Al-
An’am:151. Sedangkan dari hadits
Nabi saw, selain hadits diatas, juga
hadits tentang keharaman
membunuh orang kafir yang sudah
minta suaka (mu ’ahad).(HR.Bukhari).
Pada prinispnya pembunuhan
secara sengaja terhadap orang yang
sedang sakit berarti mendahului
takdir. Allah telah menentukan batas
akhir usia manusia. Dengan
mempercepat kematiannya, pasien
tidak mendapatkan manfaat dari
ujian yang diberikan Allah Swt
kepadanya, yakni berupa
ketawakalan kepada-Nya Raulullah
saw bersabda: “Tidaklah menimpa
kepada seseorang muslim suatu
musibah, baik kesulitan, sakit,
kesedihan, kesusahan maupun
penyakit, bahkan duri yang
menusuknya, kecuali Allah
menghapuskan kesalahan atau
dosanya dengan musibah yang
dicobakannya itu. ” (HR Bukhari dan
Muslim).
Hal itu karena yang berhak
mematikan dan menghidupkan
manusia hanyalah Allah dan oleh
karenanya manusia dalam hal ini
tidak mempunyai hak atau
kewenangan untuk memberi hidup
dan atau mematikannya.
(QS.Yunus:56, Al-Mulk:1-2).
Berkaitan dengan permasalahan
tersebut muncul persoalan fikih
yaitu apakah memudahkan proses
kematian secara aktif ditolerir oleh
Islam? Apakah memudahkan proses
kematian secara pasif juga
diperbolehkan?
Dengan demikian melalui euthanasia
aktif berarti manusia mengambil hak
Allah Swt yang sudah menjadi
ketetapanNya. Memudahkan proses
kematian secara aktif seperti pada
contoh pertama tidak diperkenankan
oleh syari’ah. Sebab yang demikian
itu berarti dokter melakukan
tindakan aktif dengan tujuan
membunuh si sakit dan
mempercepat kematiannya melalui
pemberian obat secara overdosis
atau cara lainnya.
Dalam hal ini dokter telah melakukan
pembunuhan yang haram
hukumnya, bahkan termasuk dosa
besar. Perbuatan demikian itu tidak
dapat lepas dari kategori
pembunuhan meskipun yanng
mendorongnya itu rasa kasihan
kepada si sakit dan untuk
meringankan penderitaannya.
Karena bagaimanapun dokter
tidaklah lebih pengasih dan
penyayang dari pada Allah Al-Khaliq.
Karena itu serahkanlah urusan
tersebut kepada Allah, karena Dia-lah
yang memberi kehidupan kepada
manusia dan yang mencabutnya
apabila telah tiba ajal yang telah di
tetapkan-Nya.
Eutanasia demikian juga
menandakan bahwa manusia terlalu
cepat menyerah pada keadaan
(fatalis), padahal Allah swt
menyuruh manusia untuk selalu
berusaha atau berikhtiar sampai
akhir hayatnya. Bagi manusia tidak
ada alasan untuk berputus asa atas
suatu penyakit selama masih ada
harapan, sebab kepadanya masih
ada kewajiban untuk berikhtiar.
Dalam hadits Nabi sw disebutkan
betapapun beratnya penyakit itu,
tetap ada obat penyembuhnya.(HR
Ahmad dan Muslim)
Adapun memudahkan proses
kematian dengan cara euthanasia
pasif sebagaimana dikemukakan
dalam pertanyaan, maka semua
itutermasuk dalam kategori praktik
penghentian pengobatan. Hal ini
didasarkan pada keyakinan dokter
bahwa pengobatan yang dilakukan
itu tidak ada gunanya dan tidak
memberikan harapan kepada si
sakit, sesuai dengan sunnatullah
(hukum Allah terhadap alam
semesta) dan hukum sebab-akibat.
Masalah ini terkait dengan hukum
melakukan pengobatan yang
diperselisihkan oleh para ulama fikih
apakh wajib atau sekedar sunnah.
Menurut jumhur ulama mengobati
atau berobat dari penyakit
hukumnya sunnah dan tidak wajib.
Meskipun segolongan kecil ulama
ada yang mewajibkannya, seperti
kalangan ulama syafi ’iyah dan
hanbali sebagaimana dikemukakan
oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.
Para ulama bahkan berbeda
pendapat mengenai mana yang
lebih utama: berobat ataukah
bersabar? Di antara mereka ada
yang berpendapat bahwa bersabar
(tidak berobat) itu lebih utama,
berdasarkan hadist Abbas yang
diriwayatkan dalam kitab shahih dari
seorang wanita yang menderita
epilepsi. Wanita itu meminta kepada
Nabi agar mendoakannya, lalu beliau
menjawab: “Jika engkau mau
bersabar (maka bersabarlah),
engkau akan mendapatkan surga,
dan jika engkau mau, akan saya
doakan kepada Allah agar Dia
menyembuhkanmu. ” Wanita itu
menjawab akan bersabar dan
memohon kepada Nabi untuk
medoakan kepada Allah agar ia tidak
minta dihilangkan penyakitnya
namun tetap terjaga auratnya
sehingga tidak tersingkap ketika
kambuh.
Disamping itu, terdapat banyak
contoh dari kalangan sahabat dan
tabi ’in yang tidak berobat ketika
mereka sakit, bahkan di antara
mereka ada yang memilih sakit,
seperti Ubay bin Ka ’ab dan Abu Dzar
Al-Ghifari. Sikap demikian tidak
ditegur ataupun diprotes oleh
kalangan sahabat ataupun generasi
tabai ’in lainnya sebagaimana dikupas
oleh Imam Al-Ghazali dalam satu
bab tersendiri yang berjudul “Kitab
at-Tawakal” dalam kitab Ihya
‘Ulumuddinnya.
Dalam hal ini hukum berobat atau
mengobati penyakit yang lebih tepat
adalah pada dasarnya wajib
terutama jika sakitnya parah,
obatnya efektif berpengaruh, dan
ada harapan untuk sembuh sesuai
dengan perintah Allah Swt untuk
berobat. Inilah yang sesuai dengan
petunjuk Nabi saw dalam masalah
pengobatan sebagaimana yang di
kemukakan oleh Imam Ibnul
Qoyyim dalam kitabnya Zadul-
Ma’ad. Dan paling tidak, petunjuk
Nabi saw, tersebut minimal
menunjukkan hukum sunnah.
Oleh karena itu, pengobatan atau
berobat hukumnya sunnah ataupun
wajib apabila penderita dapat
diharapkan kesembuhannya.
Sedangkan jika secara perhitungan
akurat medis yang dapat
dipertanggungjhawabkan sudah
tidak ada harapan sembuh, sesuai
dengan sunnatullah dalam hukum
kausalitas yang dikuasai para ahli
seperti dokter ahli maka tidak ada
seorang pun yang mengatakan
sunnah berobat apalagi wajib.
Apabila penderita sakit kelangsungan
hidupnya tergantung pada
pemberian berbagai macam media
pengobatan dengan cara meminum
obat, suntikan, infus dan
sebagainya, atau menggunakan alat
pernapasan buatan dan peralatan
medis modern lainnya dalam waktu
yang cukup lama, tetapi penyakitnya
tetap saja tidak ada perubahan,
maka melanjutkan pengobatannya
itu tidak wajib dan tidak juga sunnah
sebagaimana difatwakan oleh Syeikh
Yusuf Al-Qardhawi dalam Fatawa
Mu ’ashirahnya, bahkan mungkin
kebalikannya yakni tidak
mengobatinya itulah yang wajib
atau sunnah.
Dengan demikian memudahkan
proses kematian (taisir al-maut)
semacam ini dalam kondisi sudah
tidak ada harapan yang sering
diistilahkan dengan qatl ar-rahma
(membiarkan perjalanan menuju
kematian karena belas kasihan),
karena dalam kasus ini tidak didapati
tindakan aktif dari dokter maupun
orang lain. Tetapi dokter ataupun
orang terkait lainnya dengan pasien
hanya bersikap meninggalkan
sesuatu yang hukumnya tidak wajib
ataupun tidak sunnah, sehingga
tidak dapat dikenai sanksi hukuman
menurut syari ’ah maupun hukum
positif. Tindakan euthanasia pasif
oleh dokter dalam kondisi seperti ini
adalah jaiz (boleh) dan dibenarkan
syari ’ah apabila keluarga pasien
mengizinkannya demi meringankan
penderitaan dan beban pasien dan
keluarganya.
Hal ini terkait dengan contoh kedua
dari eutanasia aktif terdahulu yaitu
menghentikan alat pernapasan
buatan dari pasien, yang menurut
pandangan dokter ahli ia sudah
“ mati” atau “dikategorikan telah
mati” karena jaringan otak ataupun
fungsi syaraf sebagai media hidup
dan merasakan telah rusak. Kalau
yang dilakukan dokter tersebut
semata-mata menghentikan alat
pengobatan, hal ini sama dengan
tidak memberikan pengobatan.
Dengan demikian masalahnya sama
seperti cara-cara eutanasia pasif
lainnya. Karena itu, eutanasia untuk
seperti ini adalah bukan termasuk
kategori eutanasia aktif yang
diharamkan. Dengan demikian,
tindakan tersebut dibenarkan
syari ’ah dan tidak terlarang terutama
bila peralatan bantu medis tersebut
hanya dipergunakan pasien sekadar
untuk kehidupan lahiriah yang
tampak dalam pernapasan dan
denyut nadi saja, padahal bila dilihat
secara medis dari segi aktivitas
maka pasien tersebut sudah seperti
orang mati, tidak responsif, tidak
dapat mengerti sesuatu dan tidak
merasakan apa-apa, karena jaringan
otak dan sarafnya sebagai sumber
semua aktivitas hidup itu telah
rusak.
Membiarkan si sakit dalam kondisi
seperti itu hanya akan
menghabiskan biaya dan tenaga
yang banyak serta memperpanjang
tanggungan beban. Selain itu juga
dapat menghalangi pemanfaatan
peralatan tersebut oleh pasien lain
yang membutuhkannya. Di sisi lain,
penderita yang sudah tidak dapat
merasakan apa-apa itu hanya
menjadikan sanak keluarganya
selalu dalam keadaan sedih dan
menderita, yang mungkin sampai
puluhan tahun lamanya.
Pendapat ini telah dikemukakan
sejak lama oleh Syeikh Al-Qardhawi
kepada sejumlah pakar fikih dan
dokter dalam suatu seminar yang
diselenggarakan oleh sebuah
yayasan Islam untuk ilmu-ilmu
kedokteran di Kuwait. Para peserta
seminar dari kalangan ahli fikih dan
dokter sepakat menerima pendapat
tersebut.
Adapun hukum wajib shalat bagi
orang yang tidak sadar dan tidak
dapat merasakan apa-apa adalah
tidak berlaku lagi sampai ia sadar
kembali. Namun jika tidak kembali
sadar maka ia tidak terkenai
kewajiban tersebut.

Tag:

About rian135

this is it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: