Kanker Serviks, Tak Kenal Maka Tak Siaga

Carcinoma Cervicis Uteri adalah penyebab kematian perempuan nomor dua di Dunia setelah kanker payudara, Di Indonesia sendiri, diperkirakan 20 perempuan meninggal setiap harinya akibat keganasan Kanker Serviks.

 
Istilah kanker serviks, sepertinya sudah tidak asing ditelinga , seperti halnya pada jenis kanker lain pada umunya, posisi kanker serviks seperti mendapat perhatian khusus di mata kesehatan dunia. Berbagai pihak menggelar seminar kesehatan untuk mengupas tuntas problem kanker serviks sekaligus mensosialisasikannya ke  ketengah masyakarat, namun tak sedikit pula dari masyarakat kita yang belum mengetahui secara persis bagaimana kanker serviks itu. dan ironinya, karena masih minimnya kesiagaan masyarakat , menjadikan  kanker serviks sebagai boomerang yang merugikan bagi riwayat kesehatan para perempuan.
Mengingat prosentase penderitanya yang kian hari kian meningkat, WHO bersama Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) pun kemudian merekomendasikan vaksinasi HPV yang dilakukan lebih dini yakni pada perempuan usia 9-26 tahun. Human Papiloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18 yang dianggap sebagai penyebab terjadinya kanker cerviks saat ini telah diakui secara luas oleh sebagian besar Negara di dunia.
 
Oleh sebab itu, selain menyuntikkan solusi Vaksinasi terhadap infeksi HPV yang diharapkan mampu mencegah terjangkitnya kanker serviks di kemudian hari , pengenalan lebih dini dan mendalam tentang penyakit ini juga dianggap lebih efektif dalam membuka wawasan kita untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, sekaligus merubah gaya hidup kearah yang lebih baik.
 
Wita Saraswati, dr., SPOG salah seorang pembicara dalam seminar kesehatan bertema “Kanker Serviks Himawary” yang digelar di Aula FK Unair oleh Mahasiswa prodi S1 Kebidanan FK Unair (22/11), minggu pagi, mengungkapkan kemampuan vaksin HPV dalam mencegah infeksi HPV bisa mencapai  keberhasilan hingga 80%. namun bagaimanapun juga, pendeteksian dini kanker serviks tetap diutamakan.
 
Dalam hal ini, perjalanan kanker serviks terbilang progresif, awalnya penderita tidak mengalami semacam keluhan, Namun berlahan tapi pasti, setelah melalui jangka waktu 10 tahun kemudian, bila penderita tak menyadarinya sejak dini, maka infeksi tumor ganas yang mengenai lapisan permukaan epitel dari leher rahim ini dapat menyebar mulai dari sekitaran panggul hingga kesaluran getah bening, paru-paru, hati , tulang dan lain sebagainya. “awalnya memang tak disertai gejala, penderita baru merasakan sakitnya setelah 10 tahun berikutnya, ketika memasuki tahap pra kanker, keluhan meliputi keputihan yang berlebihan serta bau, kemudian disusul dengan terjadinya nyeri dan pendarahan pasca bersenggama” terang dr. Wita.
 
Menilik kondisi dilapangan, Ditambahkan pula oleh dr. Sunjoto, SpOG(K) bahwa sebagian besar penderita  memeriksakan dirinya baru setelah memasuki kondisi stadium lanjut yakni memasuki stadium IIb dan III, sehingga meskipun sudah diobati, namun tak sebaik pada saat ditemukan pada stadium yang masih dini. Disebutkan, Wanita yang beresiko mengidap kanker serviks diantaranya wanita dengan usia 40 tahun keatas, wanita yang sering melahirkan anak, dan golongan wanita tunasusila yang sering gonta-ganti pasangan. Namun dr. Sunjoto menggaris bawahi, wanita usia muda pun juga punya peluang tinggi mengidap kanker serviks. “wanita yang menikah di usia muda, atau dalam arti lain sudah melakukan aktifitas seksual dibawah usia 18 thun juga berpotensi tinggi mengidap kanker serviks” terang dr. sunjoto.
 
Beberapa negara maju telah berhasil menekan jumlah kasus kanker serviks, baik jumlah maupun stadiumnya. Pencapaian tersebut terutama berkat adanya program skrining massal antara lain dengan Tes Pap. Namun di Indonesia kebijakan penerapan program skrining kanker serviks kiranya masih tersangkut dengan banyak kendala, antara lain luasnya wilayah dan juga kurangnya sumber daya manusia sebagai pelaku skrining, khususnya kurangnya tenaga ahli patologi anatomik/sistologi dan stafnya, teknisi sitologi/skriner.
 
Tes skrining dengan cara Pap smear yang lebih popular digunakan dalam mendeteksi lebih dini kemungkinan adanya keganasan sel tumorn di dinding mulut rahim hanya bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya lesi keganasan kanker, meski itu tidak dijadikan sebagai patokan diagnosis. Pemeriksaan tes Pap hanyalah menapis dari sel-sel serviks wanita yang tampak sehat tanpa gejala dan kemudian dilakukan tindak lanjut.
 
Selain tes pap smear, juga ada skrining kanker serviks dengan metode yang lebih sederhana, antara lain yaitu dengan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). IVA adalah pemeriksaan skrining kanker serviks dengan cara inspeksi visual pada serviks dengan aplikasi asam asetat (IVA). Dengan metode inspeksi visual yang lebih mudah, lebih sederhana, lebih mampu laksana, maka skrining dapat dilakukan dengan cakupan lebih luas, diharapkan temuan kanker serviks dini akan bisa lebih banyak.
 
Kanker serviks mengenal stadium pra-kanker yang dapat ditemukan dengan skrining sitologi yang relatif murah, tidak sakit, cukup akurat dan dengan bantuan kolposkopi, stadium ini dapat diobati dengan cara-cara konservatif seperti krioterapi, kauterisasi atau sinar laser, dengan memperhatikan fungsi reproduksi.
 
dr.Wita menambahkan kanker serviks sebenarnya dapat dicegah, kuncinya ada pada tiga point yakni dengan  menghindari faktor resiko, melakukan deteksi dini, dan vaksinasi HPV. “pencegahan lainya  juga bisa dilakukan melalui diet makanan, dengan banyak mengkonsumsi minuman jus wortel dan tomat maka paling tidak perkembangan sel tumor bisa diperlambat karena wortel dan tomat dikenal banyak mengandung zat antioksidan sekaligus betakarotin yang sangat baik dalam menghambat laju perkembangan sel kanker”terangnya.

Tag:

About rian135

this is it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: